Selasa, November 13, 2012

EQ apakah lebih penting? 26 Juli 2009 puputwaryanto Tinggalkan Komentar Definisi emosi : Luapan perasaan yang intensitasnya lebih tinggi dan ditandai dengan adanya perubahan fisiologis, bersifat sementara, tidak terduga, dan mudah hilang. Definisi kecerdasan emosional (EQ) : Kemampuan untuk mengatur, mengendalikan, mengontrol luapan perasaan yang berlebih yang mempengaruhi pikiran, tingkah laku, dan psikis seorang individu. Golongan-golongan emosi : amarah, kesedihan, takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel (jijik), dan malu. Perbedaan IQ dan EQ : IQ bukanlah ntuk menjelaskan sesorang tetapi untuk menggambarkan potensi seseorang untuk belajar namun IQ merupakan hasil pengukuran kemampuan berfikir secara abstrak seorang individu (skor). seseorang yang mencapai perkembangan inteligensi yang optimal dapat mempergunakan totalitas kemampuannya secara efektif dan efisien dalam menghadapi persoalan-persoalan. keragaman intelligensi individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor keturunan, lingkungan, usia, dan jenis kelamin. sedangkan EQ merupakan suatu kesanggupan untuk mengendalikan dorongan emosi, membaca perasaan terdalam orang lain dan memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya. kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk membedakan dan menanggapi susana hati, tempramen, motivasi, dan hasrat diri serta orang lain. EQ terdiri dari : 1. kemampuan untuk mengenal emosi diri sendiri 2. kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi diri dengan tepat 3. kemampuan untuk memotivasi diri sendiri 4. kemampuan untuk mengenal orang lain 5. kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lian Mengapa EQ lebih penting daripada IQ?? Studi kasus : seseorang yang jelas-jelas cerdas dapat melakukan sesutau yang sedemikian bodoh dan tidak rasional. Jawabannya, Kecerdasan akademis sedikit saja berkaitan dengan kehidupan emosional. yang paling cerdas diantara kita dapat terperosok dalam nafsu takterkendali dan impuls meledak-ledak ; orang dengan IQ tinggi dapat menjadi pilot yang tak cakap dalam kehidupan pribadi mereka. Ada banyak perkecualian terhadap pemikiran yang menyatakan bahwa IQ meramalkan kesuksesan. padahal setinggi-tingginya IQ menyumbang hanya 20% bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, maka yang 80% diisi oleh kekuatan-kekuatan yang lain. Pada ciri-ciri lain kecerdasan emosional, kemampuan seperti memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, serta berempati dan berdoa. Jadi, pada dasarnya peranan EQ sangat berpengaruh pada seseorang untuk menentukan sikap dan tindakan berpengaruh pada seseorang untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dilakukan. walaupun seseorang memiliki IQ yang bagus tetapi jika tidak didukung oleh EQ maka dia akan tetap tidak dapat mengontrol pribadinya. Mengutip kata DANIEL GOLEMAN : “orang yang punya IQ tetapi tidak didukung oleh EQ yang baik sama saja dengan, orang pintar yang bodoh. “ Beberapa tahun terakhir ini semakin gencar pemahaman betapa pentingnya unsur kecerdasan emosional (EQ) yang melekat pada aspek kepemimpinan seseorang. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemampuan manajer dalam memahami dan mengelola emosinya dan juga emosi orang lain merupakan kunci kerberhasilan kinerja bisnisnya. Daniel Goleman telah menulis dan menerbitkan buku berjudul Emotional Intelligence(1995) dalam Stuart Crainer dan Des Dearlove (Handbook of Management, 2001). Dia menyimpulkan bahwa kompetensi insani seseorang seperti kesadaran diri, kedisiplinan diri, ketekunan yang terus menerus, dan empati mempunyai pengaruh lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual (IQ) terhadap kinerja bisnisnya. Goleman sebagai seorang psikolog mengadop pendapat Peter Salovey, seorang psikolog dari Universitas Yale, tentang arti kecerdasan emosional. Menurut Salovey, kecerdasan emosional dapat diamati dari lima perspektif yakni, pemahaman emosi diri, pengelolaan emosi, pemotivasian diri, pengenalan diri, dan membangun hubungan. Dalam bukunya yang lain berjudulWorking With Emotional Intelligence,(1998), Goleman kembali menegaskan bahwa kompetensi pekerjaan yang didasarkan pada kecerdasan emosional memainkan peranan yang lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual atau ketrampilan teknis. Pertanyaan yang muncul dari pendapat itu adalah apakah hal demikian berlaku untuk semua posisi pekerjaan seseorang. Hemat saya tidak demikian. Untuk para operator, ketrampilan teknis atau kecerdasan intelektual merupakan unsur kunci keberhasilan-prestasinya. Pada posisi seperti itu ketrampilan teknis harus lebih besar ketimbang kemampuan manajerialnya. Bisa dibayangkan seorang karyawan teknis produksi kalau kurang mengetahui unsur teknis dan semata-mata mengandalkan pada kecerdasan manajerial yang lebih besar maka kinerjanya bukan membaik tetapi malah menurun. Namun bukan berarti kecerdasan emosi seperti motivasi dan menajemen diri tidak diperlukan. Memang seseorang akan lebih mampu lagi meningkatkan kinerjanya apabila memiliki dua jenis kecerdasan sekaligus. Istilahnya kedua dimensi kecerdasan itu bekerja bersama secara sinergis. Hal ini lebih nyata pada kemampuan seorang pimpinan.Dengan kecerdasan intelektual tertentu plus kecerdasan emosional yang lebih besar ketimbang orang lain maka kinerjanya akan lebih tinggi. Dilihat dari posisinya, semakin senior posisi seorang pimpinan semakin membutuhkan kecerdasan emosionalnya. Hal ini wajar karena salah satu tugas penting seorang pimpinan adalah dalam mengkoordinasi orang dalam mencapai visi dan tujuan bisnis tertentu. Hal ini juga dibedakan berdasarkan gaya kepemimpinannya. Sebagaimana diketahui ada beragam gaya kepemimpinan seperti yang bersifat paksaan (coercive) pada seseorang atau kelompok orang dalam setiap permintaan untuk segera dipenuhi; gaya otoritatif yang memobilisasi orang untuk mencapai visi organisasi; gaya afiliatif yang menciptakan suasana kerjasama harmonis; gaya demokratis yang membangun konsensus dengan cara partisipasi anggota-anggotanya; gaya perintis yang suka pada keunggulan dan bertindak cepat; dan gaya seorang guru yang mengembangkan kapabilitas orang. Semuanya berhubungan dengan orang. Setiap pemimpin harus mampu menerapkan gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi. Misalnya ketika memimpin karyawan yang masih baru, seorang pemimpin sebaiknya menerapkan kepemimpinan yang berorientasi tugas dan intensitas pemantauan produksi tinggi (jumlah, mutu, tingkat kerusakan). Jadi disini dibutuhkan kecerdasan intelektual atau teknis yang lebih besar. Sementara ketika menghadapi karyawan yang semakin senior maka gaya kepemimpinannya berorientasi pada memelihara otonomi, motivasi dan hubungan sosial. Dan disini dibutuhkan kecerdasan emosional yang lebih besar. Jadi bisa disimpulkan bahwa menganalisis hubungan keberhasilan seseorang dengan bentuk kecerdasannya harus dilihat secara proporsional. Dalam prakteknya perlu diposisikan dua kecerdasan itu dalam konteks dengan output (kinerja) dan posisi pekerjaan secara seimbang. Kecerdasan intelektual dapat dipandang sebagai syarat keutamaan. Tetapi syarat itu masih kurang dan harus ditambah dengan syarat kecukupan yakni kecerdasan emosional. Dan kecerdasan emosional seseorang itu sendiri cenderung berhubungan positif dengan faktor usianya. Semakin tua usia seseorang sampai batas tertentu semakin tinggi kecerdasan emosionalnya. Semakin besar syarat kecukupan seseorang semakin besar kemampuan untuk meningkatkan kinerjanya; pada tingkat kecerdasan intelektual dan posisi tertentu.

EQ apakah lebih penting?

Definisi emosi :
Luapan perasaan yang intensitasnya lebih tinggi dan ditandai dengan adanya perubahan fisiologis, bersifat sementara, tidak terduga, dan mudah hilang.
Definisi kecerdasan emosional (EQ) :
Kemampuan untuk mengatur, mengendalikan, mengontrol luapan perasaan yang berlebih yang mempengaruhi pikiran, tingkah laku, dan psikis seorang individu.
Golongan-golongan emosi :
amarah, kesedihan, takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel (jijik), dan malu.
Perbedaan IQ dan EQ :
IQ bukanlah ntuk menjelaskan sesorang tetapi untuk menggambarkan potensi seseorang untuk belajar namun IQ merupakan hasil pengukuran kemampuan berfikir secara abstrak seorang individu (skor). seseorang yang mencapai perkembangan inteligensi yang optimal dapat mempergunakan totalitas kemampuannya secara efektif dan efisien dalam menghadapi persoalan-persoalan. keragaman intelligensi individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor keturunan, lingkungan, usia, dan jenis kelamin.
sedangkan EQ merupakan suatu kesanggupan untuk mengendalikan dorongan emosi, membaca perasaan terdalam orang lain dan memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya. kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk membedakan dan menanggapi susana hati, tempramen, motivasi, dan hasrat diri serta orang lain.
EQ terdiri dari :
1. kemampuan untuk mengenal emosi diri sendiri
2. kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi diri dengan tepat
3. kemampuan untuk memotivasi diri sendiri
4. kemampuan untuk mengenal orang lain
5. kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lian
Mengapa EQ lebih penting daripada IQ??
Studi kasus : seseorang yang jelas-jelas cerdas dapat melakukan sesutau yang sedemikian bodoh dan tidak rasional.
Jawabannya,
Kecerdasan akademis sedikit saja berkaitan dengan kehidupan emosional. yang paling cerdas diantara kita dapat terperosok dalam nafsu takterkendali dan impuls meledak-ledak ; orang dengan IQ tinggi dapat menjadi pilot yang tak cakap dalam kehidupan pribadi mereka.
Ada banyak perkecualian terhadap pemikiran yang menyatakan bahwa IQ meramalkan kesuksesan. padahal setinggi-tingginya IQ menyumbang hanya 20% bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, maka yang 80% diisi oleh kekuatan-kekuatan yang lain.
Pada ciri-ciri lain kecerdasan emosional, kemampuan seperti memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, serta berempati dan berdoa.
Jadi, pada dasarnya peranan EQ sangat berpengaruh pada seseorang untuk menentukan sikap dan tindakan berpengaruh pada seseorang untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dilakukan. walaupun seseorang memiliki IQ yang bagus tetapi jika tidak didukung oleh EQ maka dia akan tetap tidak dapat mengontrol pribadinya.
Mengutip kata DANIEL GOLEMAN :
“orang yang punya IQ tetapi tidak didukung oleh EQ yang baik sama saja dengan, orang pintar yang bodoh. “
Beberapa tahun terakhir ini semakin gencar pemahaman betapa pentingnya unsur kecerdasan emosional (EQ) yang melekat pada aspek kepemimpinan seseorang. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemampuan manajer dalam memahami dan mengelola emosinya dan juga emosi orang lain merupakan kunci kerberhasilan kinerja bisnisnya. Daniel Goleman  telah menulis dan menerbitkan buku berjudul Emotional Intelligence(1995) dalam Stuart Crainer dan Des Dearlove (Handbook of Management, 2001). Dia menyimpulkan bahwa kompetensi insani seseorang seperti kesadaran diri, kedisiplinan diri, ketekunan yang terus menerus, dan empati mempunyai pengaruh lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual (IQ) terhadap kinerja bisnisnya.
Goleman sebagai seorang psikolog mengadop pendapat Peter Salovey, seorang psikolog dari Universitas Yale, tentang arti kecerdasan emosional. Menurut Salovey, kecerdasan emosional dapat diamati dari lima perspektif yakni, pemahaman emosi diri, pengelolaan emosi, pemotivasian diri, pengenalan diri, dan membangun hubungan. Dalam bukunya yang lain berjudulWorking With Emotional Intelligence,(1998), Goleman kembali menegaskan bahwa kompetensi pekerjaan yang didasarkan pada kecerdasan emosional memainkan peranan yang lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual atau ketrampilan teknis.
Pertanyaan yang muncul dari pendapat itu adalah apakah hal demikian berlaku untuk semua posisi pekerjaan seseorang. Hemat saya tidak demikian. Untuk para operator, ketrampilan teknis atau kecerdasan intelektual merupakan unsur kunci keberhasilan-prestasinya. Pada posisi seperti itu ketrampilan teknis harus lebih besar ketimbang kemampuan manajerialnya. Bisa dibayangkan seorang karyawan teknis produksi kalau kurang mengetahui unsur teknis dan semata-mata mengandalkan pada kecerdasan manajerial yang lebih besar  maka kinerjanya bukan membaik tetapi malah menurun. Namun bukan berarti kecerdasan emosi seperti motivasi dan menajemen diri tidak diperlukan.   Memang  seseorang akan lebih mampu lagi meningkatkan kinerjanya apabila memiliki dua jenis kecerdasan sekaligus. Istilahnya kedua dimensi kecerdasan itu bekerja bersama secara sinergis. Hal ini lebih nyata pada kemampuan seorang pimpinan.Dengan kecerdasan intelektual tertentu plus kecerdasan emosional yang lebih besar ketimbang orang lain maka kinerjanya akan lebih tinggi.
Dilihat dari posisinya, semakin senior posisi seorang pimpinan semakin membutuhkan kecerdasan emosionalnya. Hal ini wajar karena salah satu tugas penting seorang pimpinan adalah dalam mengkoordinasi orang dalam mencapai visi dan tujuan bisnis tertentu. Hal ini juga dibedakan berdasarkan gaya kepemimpinannya. Sebagaimana diketahui ada beragam gaya kepemimpinan seperti yang bersifat paksaan (coercive) pada seseorang atau kelompok orang dalam setiap permintaan untuk segera dipenuhi; gaya otoritatif yang memobilisasi orang untuk mencapai visi organisasi; gaya afiliatif yang menciptakan suasana kerjasama harmonis; gaya demokratis yang membangun konsensus dengan cara partisipasi anggota-anggotanya; gaya perintis yang suka pada keunggulan dan bertindak cepat; dan gaya seorang guru yang mengembangkan kapabilitas orang. Semuanya berhubungan dengan orang.
Setiap pemimpin harus mampu menerapkan gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi. Misalnya ketika memimpin karyawan yang masih baru, seorang pemimpin sebaiknya menerapkan kepemimpinan yang berorientasi tugas dan intensitas pemantauan produksi tinggi (jumlah, mutu, tingkat kerusakan). Jadi disini dibutuhkan kecerdasan intelektual atau teknis yang lebih besar. Sementara ketika menghadapi karyawan yang semakin senior maka gaya kepemimpinannya berorientasi pada memelihara otonomi, motivasi dan hubungan sosial. Dan disini dibutuhkan kecerdasan emosional yang lebih besar.
Jadi bisa disimpulkan bahwa menganalisis hubungan keberhasilan seseorang dengan bentuk kecerdasannya harus dilihat secara proporsional. Dalam prakteknya perlu diposisikan dua kecerdasan itu dalam konteks dengan output (kinerja) dan posisi pekerjaan secara seimbang. Kecerdasan intelektual dapat dipandang sebagai syarat keutamaan. Tetapi syarat itu masih kurang dan harus ditambah dengan syarat kecukupan yakni kecerdasan emosional. Dan kecerdasan emosional seseorang itu sendiri cenderung berhubungan positif dengan faktor usianya. Semakin tua usia seseorang sampai batas tertentu semakin tinggi kecerdasan emosionalnya. Semakin besar syarat kecukupan seseorang semakin besar kemampuan untuk meningkatkan kinerjanya; pada tingkat kecerdasan intelektual dan posisi tertentu.
Assalammualikum WR WB

Tidak ada komentar: