Selasa, November 13, 2012

TERMASUK YANG MANAKAH ANDA, OTAK KIRI ATAU OTAK KANAN

Assalammualikum WR WB
TERMASUK YANG MANAKAH ANDA, OTAK KIRI ATAU OTAK KANAN

Tolong SHARE ya.

Otak Kiri (Okir) dan Otak Kanan (Okan)

Okir : Teratur, Teliti, Perhitungan, Logis, Objektif
Okan : Kuantum, Melompat, Ajaib, Tak Terhitung, Subjektif
Okir : Punya kemampuan dulu baru berani bermimpi
Okan : Berani bermimpi dalam keadaan apapun
Okir : Berkecukupan dulu baru berbakti kepada orang tua
Okan : Berbakti dulu kepada orang tua, maka akan dicukupkanNya
Okir : Menunggu Kaya baru bersedekah
Okan : Bersedekah terus sehingga ditambah terus kekayaannya olehNya
Okir : Pacaran dulu baru menikah
Okan : Menikah dulu baru pacaran
Okir : Diperhatikan dulu baru semangat bergerak
Okan : Semangat bergerak maka datanglah banyak perhatian
Okir : Menunggu ikhlas baru bersedekah
Okan : Tetap bersedekah sambil melatih keikhlasan
Okir : Menunggu bukti baru ikut membuktikan
Okan : Membuktikan dulu baru banyak pengikutnya
Okir : Cocok dulu baru cinta
Okan : Cinta dulu baru terasa cocok
Okir : Berpikir, Berpikir, Berpikir, bergerak, Berpikir, Berpikir, Berpikir
Okan : Berpikir, Bergerak, Bergerak, Bergerak, Bergerak, Berpikir, Bergerak, Bergerak, Bergerak...
Okir : Hadirnya Keyakinan karena adanya Fakta
Okan : Hadirnya Fakta karena ada Keyakinan
Okir : Kalau sedekah dihitung-hitung dan takut rugi
Okan : Kalau sedekah besar, lepas, dan yakin untung
Okir : Sebelum sedekah dipikirin, habis sedekah kepikiran
Okan : Sebelum sedekah gelisah karena pengen sedekah, habis sedekah menjadi tenang karena berhasil mengamankan investasi
Okir : Punya uang dulu baru melamar
Okan : Melamar dulu baru punya uang
Okir : Berpenghasilan Tetap
Okan : Tetap Berpenghasilan
Okir : Menerima dulu baru bersyukur
Okan : Bersyukur terus, maka Menerima terus dariNya
Okir : Pondasi melakukan introspeksi dan evaluasi
Okan : Pondasi melakukan sinergi dan komunikasi
Okir : Ibarat REM --- Sabar
Okan : Ibarat GAS --- Syukur

Cara Kerja Satu Per Satu atau sekaligus

Assalammualikum WR WB
Cara Kerja: Satu Per Satu atau Sekaligus?

Didukung teknologi modern, cara kerja multitasking lebih efektif dibandingkan singletasking .Benarkah?

Wajah Arin tampak berpeluh di ruangan kerjanya yang ber-AC. Padahal sebentar lagi, jarum jam sudah menunjukkan pukul 6 sore sementara tumpukan tugasnya belum selesai. Menurut rekan kerjanya, Arin memang tipe pekerja singletasking yang tak bisa mengerjakan tumpukan tugas sekaligus.

Banyak orang menganggap bekerja secara multitasking jauh lebih baik karena menghemat waktu. Tumpukan tugas juga bisa “dibereskan” pada waktu bersamaan. Tapi, benarkah bekerja multitasking lebih baik ketimbang singletasking ?

Menurut Elly Nagasaputra, MK. , baik atau jelek sangat relatif. “Tidak semua orang bisa bekerja multitasking , dan sebaliknya. Sementara output atau hasil kerja bisa sama,” katanya. Terlebih lagi, otak manusia pada dasarnya bukan komputer yang bisa mengerjakan banyak hal pada saat yang bersamaan.

Teknologi memang kerap dihubungkan dengan multitasking . Istilah multitasking juga baru muncul sekitar satu dekade belakangan dan ini merunut pada istilah prosesor komputer yang makin canggih serta mampu mengerjakan banyak hal pada waktu bersamaan. “Istilah ini kemudian dipakai pada manusia,” ujar Family and Life Counselor dari www.konselingkeluarga.com ini.

Seolah-olah, lanjut Elly, seorang multitasker mampu menyelesaikan banyak tugas pada waktu yang bersamaan. “Padahal, yang terjadi mengerjakan banyak hal satu demi satu juga. Misalnya, browsing materi di laptop, kemudian membaca BBM, membalas SMS, dan seterusnya. Sepertinya melakukan hal banyak, padahal tidak,” paparnya.

Tuntutan Zaman

Menurut penelitian, wanita memang memiliki kemampuan multitasking . Berbeda dengan pria yang lebih banyak bertipe singletasking . Oleh karena itu, laki-laki umumnya lebih fokus ketika mengerjakan tugas dan hasilnya pun bisa lebih maksimal. Akibatnya, kerap muncul perbedaan persepsi antara suami dan istri dalam kehidupan rumah tangga, bahkan sampai memicu konflik. “Si Istri menganggap suami enggak mau mengerjakan hal lain, padahal ia tipenya memang single tasker ,” jelasnya lagi.

Survei sendiri menunjukkan, bekerja multitasking tidak terlalu efektif. Pasalnya, fokus mengerjakan satu hal dianggap jauh lebih efektif dan optimal ketimbang mengerjakan banyak hal pada waktu bersamaan. Namun, di sisi lain, “Zaman sekarang juga tidak bisa murni singletasking , pasti ada multitasking- nya,” kata Elly.

Lagi pula, lanjutnya, ada beberapa jenis tugas atau pekerjaan yang memang tidak bisa dilakukan secara multitasking karena berisiko. Misalnya, menyetir sambil membalas SMS. “Bekerja secara multitasking oke-oke saja, asalkan tetap menakar kemampuan diri. Jangan sampai energi habis tersedot karena bekerja secara multitasking , sementara output -nya justru tidak memuaskan. Yang penting, bagaimana kita menakar dosis dan kemampuan sendiri,” tambahnya.

Kemajuan teknologi belakangan ini juga makin meningkatkan tuntutan untuk ber-multitasking . Teknologi membuat suasana seolah-olah semua orang harus bisa bekerja secara multitasking . Toh, semua yang diperlukan sudah ada di dalam genggaman piranti canggih. “Laptop bisa ditenteng ke mana-mana, tablet, iPad, smartphone , dan sebagainya. Sambil meeting bisa membalas e-mail atau melakukan deal dengan klien,” tambah Elly.

Perlu “Me Time”

Meski teknologi seakan-akan memudahkan bekerja multitasking , Elly menekankan perlunya berhati-hati dalam memanfaatkan kemajuan teknologi. Pasalnya, bekerja multitasking dengan piranti canggih atau gadget tentu harus kenal waktu dan tempat.

Di rumah, sebisa mungkin berhenti ber-gadget , apalagi kalau untuk urusan sepele. Urusan pekerjaan atau tugas, sebisa mungkin tidak dibawa ke rumah karena di rumah adalah waktu untuk keluarga. Sayangnya, yang kerap terjadi, begitu sampai rumah, orang langsung membuka laptop, membalas e-mail , atau bahkan nge-twit semalaman. Padahal di saat yang sama, mereka tengah bermain bersama anak.

Elly juga mengingatkan soal ber-gadget di depan anak-anak, “Jangan salah, anak-anak itu sangat memperhatikan apa yang dilakukan orangtuanya. Jadi, jangan salahkan mereka kalau besarnya nanti juga akan seperti itu,” tegas Elly. Contoh lain ketika berlibur. “Sudah tahu lagi liburan tapi malah asyik dengan laptop dan HP (handphone , Red).”

Selain hubungan dengan keluarga dan anak, Elly juga mengingatkan perlunya manusia akan “me time ,” tanpa terikat pada gadget . “Handphone atau BB ketinggalan aja sudah bingung bukan main. Betapa itu melelahkan secara jiwa,” ujarnya. Padahal, manusia juga butuh ketenangan. You have to be with yourself ,” urai Elly. Maka, Elly menyarankan, agar kita pintar-pintar mencari keseimbangan. “Harus ada waktu di mana kita bisa calm down , memikirkan diri sendiri,” tambahnya.

Mitos Multitasking

1 Multitasking membuat kita bisa mengerjakan lebih banyak pekerjaan.

Bisa benar, bisa tidak. Mengerjakan satu demi satu tugas memang membutuhkan waktu lama. Namun yang harus diingat, manusia itu spesifik dan unik. Tidak setiap orang mampu melakukan pekerjaan secara multitasking. Kalaupun dipaksakan, hasilnya bisa saja malah tidak maksimal. Survei Microsoft justru menunjukkan bahwa mengerjakan satu tugas dan fokus ternyata selesai lebih cepat dibandingkan mengerjakan secara multitasking. Hasilnya pun lebih baik ketika seseorang benar-benar fokus mengerjakannya.

2 Multitasking hemat waktu.

Tidak tepat. Kembali lagi ke fungsi otak manusia, di mana otak butuh waktu beberapa detik untuk kembali ke pekerjaan sebelumnya saat ia bekerja multitasking. Manusia juga bukan komputer, ia tidak bisa memproses informasi dengan cepat. “Perlu jeda, perlu waktu untuk mengolah dan berpikir,“ lanjut Elly. Bekerja multitasking juga tak optimal meski cepat selesai. Di sebuah artikel di New York Times tahun 2007, David E. Meyer, Direktur Brain, Cognition, and Action Laboratory mengungkapkan, bisa saja terjadi banyak kesalahan. Akibatnya, pekerjaan harus dikoreksi lagi. Alhasil, total waktu yang diperlukan menjadi lebih lama.

3 Multitasking tidak merugikan siapa-siapa.

Pernyataan ini harus dicek ulang. Terkadang, bekerja multitasking juga bisa merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Contoh paling jelas adalah menyetir sambil menelepon atau membalas SMS. Meski tuntutan zaman memang tidak bisa murni singletasking, Anda tetap harus “berhitung” saat melakukan multitasking. “Kalau masih wajar dan output yang kita hasilkan masih termonitor, baik kualitas maupun kebutuhan waktunya, ya tidak masalah. Tapi, kalau dengan multitasking, pekerjaan malah terbengkalai, sebaiknya tidak usah,” lanjut Elly.

Mengapa CINCIN Pernikahan berada di jari manis?

Assalammualikum WR WB
Mengapa CINCIN Pernikahan berada di jari manis?

Ini bukan mitos tp keajaiban dari CONFUSIUS,coba ikuti langkah” berikut :

1. Pertama,gabungkan kedua telapak tangan anda, kemudian jari tengah ditekuk ke dalam.

2. Kemudian, 4 jari yang lain pertemukan ujungnya.

3. Permainan dimulai, 5 pasang jari tetapi hanya 1 pasang yang tidak terpisahkan.

4. Cobalah membuka ibu jari anda, ibu jari mewakili orang tua, ibu jari bisa dibuka karena semua manusia mengalami sakit dan mati. Dengan demikian orang tua kita akan meninggalkan kita suatu hari nanti.

5. Tutup kembali ibu jari anda, kemudian buka jari telunjuk anda, jari telunjuk mewakili kakak dan
adik anda, mereka memiliki keluarga sendiri, sehingga mereka juga akan meninggalkan kita.

6. Sekarang tutup kembali jari telunjuk anda, buka jari kelingking, yang mewakili anak-anak. Cepat atau lambat anak- anak juga akan meninggalkan kita.

7. Selanjutnya, tutup jari kelingking anda,bukalah jari manis anda tempat dimana anda menaruh cincin perkawinan anda,pasti anda akan heran karena jari tersebut sulit akan
bisa dibuka..Mengapa ?????

Karena jari manis mewakili suami istri,selama hidup anda dan pasangan anda akan melekat satu sama lain

Oleh krn itu selama masih sempat, jngn sia2kan & jngn sakiti pasangan anda, berlombalah utk membahagiakan pasangan anda, baik dlm suka maupun duka

♥ Selamat Mencoba Sahabat ♥

Foto Lee Yong Dae Beredar

Foto Mesum Lee Yong Dae Beredar

Usai menjuarai gelar Juara di Perancis Terbuka beberapa pekan lalu, kabar mengejutkan datang dari pebulutangkis megabintang Korea, Lee Yong Dae kedapatan memiliki foto sedang melakukan adegan mesum dengan s...
eorang wanita. Foto-foto itu beredar di dunia maya hari ini.

Dalam 2 foto yang memuat gambar peraih perunggu London itu, Lee Yong dae berpose intim dengan berciuman dengan seorang wanita yang setahun lebih muda darinya di sebuah kolam renang. Sang wanita mengenakan bikini warna hitam sedangkan Lee hanya mengenakan celana pendek motif polkadot. Anehnya, tangan kanan wanita itu diberi gip, diduga ada luka di tangan kanannya.

Di foto lain, Lee memfoto dirinya sendiri dengan wanita yang saat itu mengenakan handuk. Diduga foto itu diambil seusai mereka berenang bersama. Mencurigakan! Tidur Bersamakah??

Padahal pada awal November lalu, Lee mengaku tidak memiliki pacar dan sedang fokus dengan karir bulutangkisnya. Karena menurutnya, fokus dengan karir akan menghasilkan buah, seperti yang terjadi di Olimpiade Beijing lalu. Apakah gara-gara sang cewek ini membuat Lee tak fokus latihan sehingga gagal meraih emas Olimpiade London?

Di wawancara itu pula, Lee mengaku suka wanita yang bisa memasak. Ibunya juga menuturkan bahwa Lee diharapkan punya istri yang bisa mengurus Lee, terutama soal makanan buat sang peraih perunggu Olimpiade London itu.

Menurut kabar yang beredar di Korea, foto ini kemungkinan diambil pasca Olimpiade London. Wanita itu sendiri memang terindikasi sebagai seorang mahasiswi yang terkenal cantik di universitasnya.

Melihat foto-foto diatas, bagaimana perasaan anda sebagai pecinta Lee Yong Dae. Gue sebagai penganggum permainan Lee tidak terlalu mementingan hal ini, tapi memang seharusnya atlet yang sudah punya prestasi di lapangan, juga harus punya moralitas yang berprestasi di luar lapangan…

>( A6 )<
See More
See Translation
Assalammualikum WR WB

EQ apakah lebih penting? 26 Juli 2009 puputwaryanto Tinggalkan Komentar Definisi emosi : Luapan perasaan yang intensitasnya lebih tinggi dan ditandai dengan adanya perubahan fisiologis, bersifat sementara, tidak terduga, dan mudah hilang. Definisi kecerdasan emosional (EQ) : Kemampuan untuk mengatur, mengendalikan, mengontrol luapan perasaan yang berlebih yang mempengaruhi pikiran, tingkah laku, dan psikis seorang individu. Golongan-golongan emosi : amarah, kesedihan, takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel (jijik), dan malu. Perbedaan IQ dan EQ : IQ bukanlah ntuk menjelaskan sesorang tetapi untuk menggambarkan potensi seseorang untuk belajar namun IQ merupakan hasil pengukuran kemampuan berfikir secara abstrak seorang individu (skor). seseorang yang mencapai perkembangan inteligensi yang optimal dapat mempergunakan totalitas kemampuannya secara efektif dan efisien dalam menghadapi persoalan-persoalan. keragaman intelligensi individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor keturunan, lingkungan, usia, dan jenis kelamin. sedangkan EQ merupakan suatu kesanggupan untuk mengendalikan dorongan emosi, membaca perasaan terdalam orang lain dan memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya. kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk membedakan dan menanggapi susana hati, tempramen, motivasi, dan hasrat diri serta orang lain. EQ terdiri dari : 1. kemampuan untuk mengenal emosi diri sendiri 2. kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi diri dengan tepat 3. kemampuan untuk memotivasi diri sendiri 4. kemampuan untuk mengenal orang lain 5. kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lian Mengapa EQ lebih penting daripada IQ?? Studi kasus : seseorang yang jelas-jelas cerdas dapat melakukan sesutau yang sedemikian bodoh dan tidak rasional. Jawabannya, Kecerdasan akademis sedikit saja berkaitan dengan kehidupan emosional. yang paling cerdas diantara kita dapat terperosok dalam nafsu takterkendali dan impuls meledak-ledak ; orang dengan IQ tinggi dapat menjadi pilot yang tak cakap dalam kehidupan pribadi mereka. Ada banyak perkecualian terhadap pemikiran yang menyatakan bahwa IQ meramalkan kesuksesan. padahal setinggi-tingginya IQ menyumbang hanya 20% bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, maka yang 80% diisi oleh kekuatan-kekuatan yang lain. Pada ciri-ciri lain kecerdasan emosional, kemampuan seperti memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, serta berempati dan berdoa. Jadi, pada dasarnya peranan EQ sangat berpengaruh pada seseorang untuk menentukan sikap dan tindakan berpengaruh pada seseorang untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dilakukan. walaupun seseorang memiliki IQ yang bagus tetapi jika tidak didukung oleh EQ maka dia akan tetap tidak dapat mengontrol pribadinya. Mengutip kata DANIEL GOLEMAN : “orang yang punya IQ tetapi tidak didukung oleh EQ yang baik sama saja dengan, orang pintar yang bodoh. “ Beberapa tahun terakhir ini semakin gencar pemahaman betapa pentingnya unsur kecerdasan emosional (EQ) yang melekat pada aspek kepemimpinan seseorang. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemampuan manajer dalam memahami dan mengelola emosinya dan juga emosi orang lain merupakan kunci kerberhasilan kinerja bisnisnya. Daniel Goleman telah menulis dan menerbitkan buku berjudul Emotional Intelligence(1995) dalam Stuart Crainer dan Des Dearlove (Handbook of Management, 2001). Dia menyimpulkan bahwa kompetensi insani seseorang seperti kesadaran diri, kedisiplinan diri, ketekunan yang terus menerus, dan empati mempunyai pengaruh lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual (IQ) terhadap kinerja bisnisnya. Goleman sebagai seorang psikolog mengadop pendapat Peter Salovey, seorang psikolog dari Universitas Yale, tentang arti kecerdasan emosional. Menurut Salovey, kecerdasan emosional dapat diamati dari lima perspektif yakni, pemahaman emosi diri, pengelolaan emosi, pemotivasian diri, pengenalan diri, dan membangun hubungan. Dalam bukunya yang lain berjudulWorking With Emotional Intelligence,(1998), Goleman kembali menegaskan bahwa kompetensi pekerjaan yang didasarkan pada kecerdasan emosional memainkan peranan yang lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual atau ketrampilan teknis. Pertanyaan yang muncul dari pendapat itu adalah apakah hal demikian berlaku untuk semua posisi pekerjaan seseorang. Hemat saya tidak demikian. Untuk para operator, ketrampilan teknis atau kecerdasan intelektual merupakan unsur kunci keberhasilan-prestasinya. Pada posisi seperti itu ketrampilan teknis harus lebih besar ketimbang kemampuan manajerialnya. Bisa dibayangkan seorang karyawan teknis produksi kalau kurang mengetahui unsur teknis dan semata-mata mengandalkan pada kecerdasan manajerial yang lebih besar maka kinerjanya bukan membaik tetapi malah menurun. Namun bukan berarti kecerdasan emosi seperti motivasi dan menajemen diri tidak diperlukan. Memang seseorang akan lebih mampu lagi meningkatkan kinerjanya apabila memiliki dua jenis kecerdasan sekaligus. Istilahnya kedua dimensi kecerdasan itu bekerja bersama secara sinergis. Hal ini lebih nyata pada kemampuan seorang pimpinan.Dengan kecerdasan intelektual tertentu plus kecerdasan emosional yang lebih besar ketimbang orang lain maka kinerjanya akan lebih tinggi. Dilihat dari posisinya, semakin senior posisi seorang pimpinan semakin membutuhkan kecerdasan emosionalnya. Hal ini wajar karena salah satu tugas penting seorang pimpinan adalah dalam mengkoordinasi orang dalam mencapai visi dan tujuan bisnis tertentu. Hal ini juga dibedakan berdasarkan gaya kepemimpinannya. Sebagaimana diketahui ada beragam gaya kepemimpinan seperti yang bersifat paksaan (coercive) pada seseorang atau kelompok orang dalam setiap permintaan untuk segera dipenuhi; gaya otoritatif yang memobilisasi orang untuk mencapai visi organisasi; gaya afiliatif yang menciptakan suasana kerjasama harmonis; gaya demokratis yang membangun konsensus dengan cara partisipasi anggota-anggotanya; gaya perintis yang suka pada keunggulan dan bertindak cepat; dan gaya seorang guru yang mengembangkan kapabilitas orang. Semuanya berhubungan dengan orang. Setiap pemimpin harus mampu menerapkan gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi. Misalnya ketika memimpin karyawan yang masih baru, seorang pemimpin sebaiknya menerapkan kepemimpinan yang berorientasi tugas dan intensitas pemantauan produksi tinggi (jumlah, mutu, tingkat kerusakan). Jadi disini dibutuhkan kecerdasan intelektual atau teknis yang lebih besar. Sementara ketika menghadapi karyawan yang semakin senior maka gaya kepemimpinannya berorientasi pada memelihara otonomi, motivasi dan hubungan sosial. Dan disini dibutuhkan kecerdasan emosional yang lebih besar. Jadi bisa disimpulkan bahwa menganalisis hubungan keberhasilan seseorang dengan bentuk kecerdasannya harus dilihat secara proporsional. Dalam prakteknya perlu diposisikan dua kecerdasan itu dalam konteks dengan output (kinerja) dan posisi pekerjaan secara seimbang. Kecerdasan intelektual dapat dipandang sebagai syarat keutamaan. Tetapi syarat itu masih kurang dan harus ditambah dengan syarat kecukupan yakni kecerdasan emosional. Dan kecerdasan emosional seseorang itu sendiri cenderung berhubungan positif dengan faktor usianya. Semakin tua usia seseorang sampai batas tertentu semakin tinggi kecerdasan emosionalnya. Semakin besar syarat kecukupan seseorang semakin besar kemampuan untuk meningkatkan kinerjanya; pada tingkat kecerdasan intelektual dan posisi tertentu.

EQ apakah lebih penting?

Definisi emosi :
Luapan perasaan yang intensitasnya lebih tinggi dan ditandai dengan adanya perubahan fisiologis, bersifat sementara, tidak terduga, dan mudah hilang.
Definisi kecerdasan emosional (EQ) :
Kemampuan untuk mengatur, mengendalikan, mengontrol luapan perasaan yang berlebih yang mempengaruhi pikiran, tingkah laku, dan psikis seorang individu.
Golongan-golongan emosi :
amarah, kesedihan, takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel (jijik), dan malu.
Perbedaan IQ dan EQ :
IQ bukanlah ntuk menjelaskan sesorang tetapi untuk menggambarkan potensi seseorang untuk belajar namun IQ merupakan hasil pengukuran kemampuan berfikir secara abstrak seorang individu (skor). seseorang yang mencapai perkembangan inteligensi yang optimal dapat mempergunakan totalitas kemampuannya secara efektif dan efisien dalam menghadapi persoalan-persoalan. keragaman intelligensi individu sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor keturunan, lingkungan, usia, dan jenis kelamin.
sedangkan EQ merupakan suatu kesanggupan untuk mengendalikan dorongan emosi, membaca perasaan terdalam orang lain dan memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya. kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk membedakan dan menanggapi susana hati, tempramen, motivasi, dan hasrat diri serta orang lain.
EQ terdiri dari :
1. kemampuan untuk mengenal emosi diri sendiri
2. kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi diri dengan tepat
3. kemampuan untuk memotivasi diri sendiri
4. kemampuan untuk mengenal orang lain
5. kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lian
Mengapa EQ lebih penting daripada IQ??
Studi kasus : seseorang yang jelas-jelas cerdas dapat melakukan sesutau yang sedemikian bodoh dan tidak rasional.
Jawabannya,
Kecerdasan akademis sedikit saja berkaitan dengan kehidupan emosional. yang paling cerdas diantara kita dapat terperosok dalam nafsu takterkendali dan impuls meledak-ledak ; orang dengan IQ tinggi dapat menjadi pilot yang tak cakap dalam kehidupan pribadi mereka.
Ada banyak perkecualian terhadap pemikiran yang menyatakan bahwa IQ meramalkan kesuksesan. padahal setinggi-tingginya IQ menyumbang hanya 20% bagi faktor-faktor yang menentukan sukses dalam hidup, maka yang 80% diisi oleh kekuatan-kekuatan yang lain.
Pada ciri-ciri lain kecerdasan emosional, kemampuan seperti memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, serta berempati dan berdoa.
Jadi, pada dasarnya peranan EQ sangat berpengaruh pada seseorang untuk menentukan sikap dan tindakan berpengaruh pada seseorang untuk menentukan sikap dan tindakan yang akan dilakukan. walaupun seseorang memiliki IQ yang bagus tetapi jika tidak didukung oleh EQ maka dia akan tetap tidak dapat mengontrol pribadinya.
Mengutip kata DANIEL GOLEMAN :
“orang yang punya IQ tetapi tidak didukung oleh EQ yang baik sama saja dengan, orang pintar yang bodoh. “
Beberapa tahun terakhir ini semakin gencar pemahaman betapa pentingnya unsur kecerdasan emosional (EQ) yang melekat pada aspek kepemimpinan seseorang. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa kemampuan manajer dalam memahami dan mengelola emosinya dan juga emosi orang lain merupakan kunci kerberhasilan kinerja bisnisnya. Daniel Goleman  telah menulis dan menerbitkan buku berjudul Emotional Intelligence(1995) dalam Stuart Crainer dan Des Dearlove (Handbook of Management, 2001). Dia menyimpulkan bahwa kompetensi insani seseorang seperti kesadaran diri, kedisiplinan diri, ketekunan yang terus menerus, dan empati mempunyai pengaruh lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual (IQ) terhadap kinerja bisnisnya.
Goleman sebagai seorang psikolog mengadop pendapat Peter Salovey, seorang psikolog dari Universitas Yale, tentang arti kecerdasan emosional. Menurut Salovey, kecerdasan emosional dapat diamati dari lima perspektif yakni, pemahaman emosi diri, pengelolaan emosi, pemotivasian diri, pengenalan diri, dan membangun hubungan. Dalam bukunya yang lain berjudulWorking With Emotional Intelligence,(1998), Goleman kembali menegaskan bahwa kompetensi pekerjaan yang didasarkan pada kecerdasan emosional memainkan peranan yang lebih besar ketimbang kecerdasan intelektual atau ketrampilan teknis.
Pertanyaan yang muncul dari pendapat itu adalah apakah hal demikian berlaku untuk semua posisi pekerjaan seseorang. Hemat saya tidak demikian. Untuk para operator, ketrampilan teknis atau kecerdasan intelektual merupakan unsur kunci keberhasilan-prestasinya. Pada posisi seperti itu ketrampilan teknis harus lebih besar ketimbang kemampuan manajerialnya. Bisa dibayangkan seorang karyawan teknis produksi kalau kurang mengetahui unsur teknis dan semata-mata mengandalkan pada kecerdasan manajerial yang lebih besar  maka kinerjanya bukan membaik tetapi malah menurun. Namun bukan berarti kecerdasan emosi seperti motivasi dan menajemen diri tidak diperlukan.   Memang  seseorang akan lebih mampu lagi meningkatkan kinerjanya apabila memiliki dua jenis kecerdasan sekaligus. Istilahnya kedua dimensi kecerdasan itu bekerja bersama secara sinergis. Hal ini lebih nyata pada kemampuan seorang pimpinan.Dengan kecerdasan intelektual tertentu plus kecerdasan emosional yang lebih besar ketimbang orang lain maka kinerjanya akan lebih tinggi.
Dilihat dari posisinya, semakin senior posisi seorang pimpinan semakin membutuhkan kecerdasan emosionalnya. Hal ini wajar karena salah satu tugas penting seorang pimpinan adalah dalam mengkoordinasi orang dalam mencapai visi dan tujuan bisnis tertentu. Hal ini juga dibedakan berdasarkan gaya kepemimpinannya. Sebagaimana diketahui ada beragam gaya kepemimpinan seperti yang bersifat paksaan (coercive) pada seseorang atau kelompok orang dalam setiap permintaan untuk segera dipenuhi; gaya otoritatif yang memobilisasi orang untuk mencapai visi organisasi; gaya afiliatif yang menciptakan suasana kerjasama harmonis; gaya demokratis yang membangun konsensus dengan cara partisipasi anggota-anggotanya; gaya perintis yang suka pada keunggulan dan bertindak cepat; dan gaya seorang guru yang mengembangkan kapabilitas orang. Semuanya berhubungan dengan orang.
Setiap pemimpin harus mampu menerapkan gaya kepemimpinannya sesuai dengan situasi. Misalnya ketika memimpin karyawan yang masih baru, seorang pemimpin sebaiknya menerapkan kepemimpinan yang berorientasi tugas dan intensitas pemantauan produksi tinggi (jumlah, mutu, tingkat kerusakan). Jadi disini dibutuhkan kecerdasan intelektual atau teknis yang lebih besar. Sementara ketika menghadapi karyawan yang semakin senior maka gaya kepemimpinannya berorientasi pada memelihara otonomi, motivasi dan hubungan sosial. Dan disini dibutuhkan kecerdasan emosional yang lebih besar.
Jadi bisa disimpulkan bahwa menganalisis hubungan keberhasilan seseorang dengan bentuk kecerdasannya harus dilihat secara proporsional. Dalam prakteknya perlu diposisikan dua kecerdasan itu dalam konteks dengan output (kinerja) dan posisi pekerjaan secara seimbang. Kecerdasan intelektual dapat dipandang sebagai syarat keutamaan. Tetapi syarat itu masih kurang dan harus ditambah dengan syarat kecukupan yakni kecerdasan emosional. Dan kecerdasan emosional seseorang itu sendiri cenderung berhubungan positif dengan faktor usianya. Semakin tua usia seseorang sampai batas tertentu semakin tinggi kecerdasan emosionalnya. Semakin besar syarat kecukupan seseorang semakin besar kemampuan untuk meningkatkan kinerjanya; pada tingkat kecerdasan intelektual dan posisi tertentu.
Assalammualikum WR WB

Cara Terbaik Agar Sehat Dalam Mengonsumsi Mie Instan

Assalammualikum WR WB

Cara Terbaik Agar Sehat Dalam Mengonsumsi Mie Instan



Cara Terbaik Agar Sehat Dalam Mengonsumsi Mie Instan
Cara Terbaik Agar Sehat Dalam Mengonsumsi Mie Instan

Miftakhulirfan.com-Cara Terbaik Agar Sehat Dalam Mengonsumsi Mie Instan Mie Instan sering kali di gunakan pada saat anda sedang terburu-buru, Waktu pagi misalnya pada saat anda sudah hampir telat sekolah, kerja, atau yang lainnya, pasti kebanyakan dari anda memilih mengkonsumsi Mie Instan Dari pada tidak makan.
Namun taukah anda dari kelezatan, dan keenakan dari mie instan ternyata ada juga dampak buruknya. Bumbu yang ada dalam mi instan mengandung kadar garam dan pengawet, seperti monosodium glutamat (MSG) yang tinggi, sehingga pada orang yang memiliki hipertensi, kegemukan dan diabetes tidak dianjurkan untuk mengonsumsinya.
Mi instan tidak dianjurkan untuk dikonsumsi orang yang gemuk, hipertensi, atau diabetes.  Karbohidrat yang terkandung di dalamnya sudah mengalami proses berkali-kali yang membuatnya mudah sekali diserap sehingga dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat. Bagi Anda penggemar mi instan, lebih baik mengurangi untuk mengonsumsinya. Tujuannya adalah demi kesehatan tubuh Anda. Jika ingin memakannya pun Anda harus olah secara sehat. Bagaimana cara mengelola mi instan agar tetap sehat? Untuk mengetahuinya, sebaiknya Anda simak tips berikut ini:



1.Mengonsumsi minimal seminggu sekali
 Sudah diketahui banyak orang bahwa tidak baik untuk kesehatan jika mengonsumsi mi instan terlalu sering. Mi instan boleh-boleh saja Anda konsumsi tapi minimal satu minggu sekali saja. Itupun jika Anda benar-benar ingin memakannya. Jangan biasakan diri Anda untuk mengonsumsi mi instan jika tidak selera dengan masakan lain dan jangan juga menjadikan mi instan sebagai makanan pokok.
2. Jangan memakai air rebusannya 
Mengonsumsi mi instan dengan memakai air rebusannya memang sangat lezat. Namun, hal ini jangan Anda biasakan karena dalam jangka panjang, bahan kimia tersebut akan sangat berbahaya bagi kecantikan wajah dan kulit. Kulit Anda akan menjadi kering dan menimbulkan berbagai gejala penuaan dini. Alangkah baiknya, jika mengonsumsinya menggunakan air rebusan yang baru saja agar bisa mengurangi risiko terkena efek negatif.
3. Tambahkan sayur
Agar tetap sehat mengonsumsi mi instan. Anda bisa tambahkan berbagai jenis sayur. Tambahkan sayur-mayur, seperti tomat, sawi hijau, toge, daun bawang, dan sayuran kesukaan Anda lainnya. Dengan menambahkan sayur-mayur di dalamnya, setidaknya Anda mempedulikan kesehatan tubuh agar tetap sehat.
4. Jangan memakai nasi 
Kandungan karbohidrat juga ada di dalam mi instan. Untuk mengonsumsinya, jangan lagi Anda tambahkan nasi. Nasi juga memiliki karbohidrat sehingga jika Anda memakan secara bersamaan akan berdampak buruk pada kesehatan. Selain menambahkan sayur-mayur, Anda juga bisa menambahkan berbagai jenis makanan lain yang memiliki kandungan protein, seperti telur. Bagaimanapun juga mie instan tidak bisa menggantikan makanan penuh. Mi instan tetap akan dianggap sebagai makanan bantu sementara untuk menunda rasa lapar. Selain tidak baik untuk jika dikonsumsi secara terus-menerus, kandungan gizi di dalam mi instan juga tidak memenuhi kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh. Gangguan kesehatan yang bisa ditimbulkan bila Anda terus-menerus mengonsumsi mi instan, seperti obesitas, kenaikan kadar gula darah, kenaikan tensi tubuh, dan lain sebagainya. (NR)


Itulah tadi tips mengenai Cara Terbaik Agar Sehat Dalam Mengonsumsi Mie Instan, Semoga bermanfaat bagi anda, dan anda juga bisa melihat informasi lainnya di bawah ini.